Anda belum login :: 26 Nov 2022 22:07 WIB
Detail
ArtikelAntara Rasa dan Estetika Komodifikasi Nilai Konsumsi pada Pangan Sebagai Wujud Eksistensi  
Oleh: Raditya, Michael H. B.
Jenis: Article from Journal - ilmiah nasional - terakreditasi DIKTI - non-atma jaya
Dalam koleksi: Jurnal Kawistara: Jurnal Sosial dan Humaniora vol. 04 no. 02 (Aug. 2014), page 150-161.
Topik: Makanan; Estetika; Komodifikasi; Eksistensi; Pesona; Food; Aesthetics; Commodification; Existence; Enchantment
Fulltext: KK3015004022014.pdf (472.48KB)
Ketersediaan
  • Perpustakaan Pusat (Semanggi)
    • Nomor Panggil: KK30
    • Non-tandon: tidak ada
    • Tandon: 1
 Lihat Detail Induk
Isi artikelDewasa ini, perkembangan konsumsi pangan yang masif membentuk banyak perubahan, termasuk pada unsur biologis manusia, yaitu aktifitas makan.Makanan yang pada awalnya mengedepankan rasa sebagai prioritas nilai pertukaran, menjadi berubah dengan adanya konsep penyajian dan penampilan pada makanan.Penyajian pada makanan menjadi penting dan menjadi nilai tersendiri bagi makanan tersebut. Penampilan menjadi stimulan utama bagi makanan untuk menentukan rasa dari makanan tersebut.Ditilik lebih lanjut, secara implisit menegaskan bahwa terjadi komodifikasi pertukaran nilai pada makanan. Mengupas nilai pada makanan sebagai wujud komodifikasi yang berkorelasi dengan eksistensi masyarakat. Dalam menjawab permasalahan, etnografi dan metode penelitian seni menjadi sumber analisa data, dengan wawancara dan studi literatur sebagai kekayaan data, untuk menafsirkan dan menjawab fenomena yang ada.Hasil penelitian yang ditemukan adalah seni merupakan unsur baru dalam pertukaran nilai pada makanan.Makanan dan seni membentuk makanan mempunyai estetik dan pesona tersendiri, sehingga memberikan harga jual yang lebih tinggi.Pola konsumerisme masyarakat yang tinggi menjadikan makanan estetik sebagai lambang eksistensi kelas pada masyarakat.Tingginya nilai harga pada makanan estetik menjadi acuan masyarakat untuk menunjukan diri mereka. Makanan tidak terbentuk karena makanan itu sendiri, tetapi kontekstual pada makanan ikut membentuk makanan menjadi lebih esensial.
Opini AndaKlik untuk menuliskan opini Anda tentang koleksi ini!

Kembali
design
 
Process time: 0.03125 second(s)