Anda belum login :: 02 Jul 2022 10:05 WIB
Detail
ArtikelModalitas Keharusan Sebagai Representasi Perang Opini Dalam Wacana Tajuk Tentang Terorisme Suara Pembaruan dan Republika  
Oleh: Subagyo, P. Ari
Jenis: Article from Proceeding
Dalam koleksi: KOLITA 11: Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya Kesebelas, Jakarta,1-2 Mei 2013, page 201-206.
Topik: modalitas keharusan; representasi; perang opini; wacana tajuk; terorisme; CDA
Fulltext: MODALITAS KEHARUSAN.pdf (2.17MB)
Ketersediaan
  • Perpustakaan PKBB
    • Nomor Panggil: 406 KLA 11
    • Non-tandon: 1 (dapat dipinjam: 0)
    • Tandon: 1
    Lihat Detail Induk
Isi artikelModalitas merupakan satuan lingual yang dapat digunakan untuk menggambarkan sikap pembicara atau penulis terhadap apa yang dikemukakan dalam tuturan (utterance)-nya (bdk. Alwi, ibid., hlm. 5). Dalam bahasa Indonesia, ada dua belas jenis modalitas, salah satunya modalitas keharusan. Sebelas jenis yang lain adalah modalitas (1) keinginan, (2) harapan, (3) ajakan, (4) pembiaran, (5) permintaan, (6) kemungkinan, (7) keteramalan, (8) kepastian, (9) izin, (10) perintah, dan (11) kemampuan (lih. Alwi, 1992). Modalitas merupakan aspek makna yang amat kompleks dan rumit (bdk. Fairclough, 2003: 168). Dalam pandangan analisis wacana kritis (CDA), modalitas merepresentasikan pendirian (stance) serta ketertarikan atau keterkaitan (affinity) pembicara/penulis atas/dengan seseorang atau sesuatu yang terungkap dalam klausa (Hodge dan Kress dikutip Fairclough, ibid., hlm. 164). Artikel ini secara khusus membahas modalitas keharusan sebagai representasi perang opini dalam wacana tajuk (editorial) tentang terorisme di harian Suara Pembaruan dan Republika. Sekadar bukti, dua contoh di bawah ini memperlihatkan perang opini tersebut. Dalam opini Suara Pembaruan, pelaku teror adalah Jemaah Islamiyah (JI); sedangkan dalam opini Republika, JI bukan atau belum tentu sebagai teroris. Dua pertanyaan yang akan dijawab dalam artikel ini meliputi (a) Apa saja kata modalitas keharusan yang digunakan dalam wacana tajuk tentang terorisme di harian Suara Pembaruan dan Republika? serta (b) Apa perbedaan hal-hal yang diharuskan oleh Suara Pembaruan dan Republika? Perbedaan-perbedaan itu tentu merepresentasikan perbedaan (bahkan perang) opini. Adapun perbedaan/perang opini merupakan akibat perbedaan “ideologi” (atau pendirian) Suara Pembaruan - yang dikelola oleh kelompok Kristen - versus “ideologi” (atau pendirian) harian Republika - yang dikelola oleh kelompok Islam dalam memandang persoalan terorisme.
Opini AndaKlik untuk menuliskan opini Anda tentang koleksi ini!

Kembali
design
 
Process time: 0.046875 second(s)