Anda belum login :: 21 Jun 2024 17:46 WIB
Detail
ArtikelMengefektifkan Gaji sebagai Instrumen Manajemen  
Oleh: Sugiarsono, Joko
Jenis: Article from Bulletin/Magazine
Dalam koleksi: SWA vol. 28 no. 19 (Sep. 2012), page 24-25.
Topik: Krisis Financial; Reward; Gaji; Manajemen Industri; Penilaian Kinerja Karyawan
Ketersediaan
  • Perpustakaan Pusat (Semanggi)
    • Nomor Panggil: SS33.82
    • Non-tandon: 1 (dapat dipinjam: 0)
    • Tandon: tidak ada
    Lihat Detail Induk
Isi artikelKrisis finansial 2008/2009 makin membuka mata kalangan korporasi bahwa sistem reward konvensional tak cocok lagi dengan situasi kekinian dan masa depan. Karyawan dan tim yang berkinerja lebih baik memang sudah selayaknya diberi reward (termasuk gaji) lebih tinggi. Soal besaran gaji yang pas dan aspek kepantasannya memang merupakan masalah klasik. Buktinya, dari dulu hingga kini masih selalu diperdebatkan. Two Factors Theory dari Herzberg (1966) memasukkan unsur seperti gaji hanya sebagai faktor hygiene, bukan faktor motivasi seperti daya tarik pekerjaan itu sendiri. Dan, unsur dari faktor hygiene itu bukan hanya gaji. Begitu pula, Needs Hierarchy Theory dari Maslow (1943) menyebutkan bahwa motivasi - mulai dari physiological needs, safety, love, esteem, hingga self-actualization. Artinya, bolehlah disebutkan (terutama buat kalangan eksekutif), besaran gaji bukanlah segala-galanya, karena ada kebutuhan lain yang lebih penting.
Opini AndaKlik untuk menuliskan opini Anda tentang koleksi ini!

Kembali
design
 
Process time: 0.015625 second(s)