| Industri pengolahan kelapa sawit dituntut meningkatkan efisiensi proses untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan daya saing. Stasiun klarifikasi berperan penting dalam pemisahan minyak, air, dan padatan yang menentukan mutu CPO. Penelitian ini menganalisis dampak integrasi dua stasiun klarifikasi berkapasitas 30 ton/jam dan 45 ton/jam di PKS Sei Mangkei menjadi satu sistem terintegrasi terhadap kinerja teknis dan ekonomi. Metode yang digunakan meliputi evaluasi layout dan process flow, analisis konsumsi energi dan tenaga kerja, analisis losses dan mutu produk, serta analisis kelayakan ekonomi berbasis penghematan biaya operasional. Hasil menunjukkan bahwa integrasi menyederhanakan sistem dari 2 stasiun menjadi 1 stasiun, jalur DCO dari 2 menjadi 1, mempersingkat panjang pipa dari 75–100 m menjadi 35–40 m, serta menurunkan jumlah tangki aktif dari 8 menjadi 4 dan pompa aktif dari 10 menjadi 5 unit. Kebutuhan tenaga kerja berkurang dari 8 menjadi 4 orang per shift (efisiensi 50%) dan beban peralatan listrik yang dinonaktifkan mencapai 87,5 kW. Konsumsi listrik tahunan menurun dari 6.049.080 kWh (2023) menjadi 4.980.360 kWh (2025). Kinerja proses meningkat yang ditunjukkan oleh penurunan losses total terhadap TBS dari 1,23% menjadi 1,08%, penurunan drab akhir dari 0,40% menjadi 0,35%, serta perbaikan mutu CPO dengan ALB turun dari 3,43% menjadi 3,26%. Total investasi integrasi sebesar Rp 188.426.774 dengan manfaat efisiensi biaya rata-rata Rp 9,45 miliar per tahun menghasilkan payback period sekitar 7,3 hari. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi stasiun klarifikasi layak secara teknis dan ekonomis serta efektif meningkatkan efisiensi operasional pabrik. |