| Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja proses ekstraksi minyak dari sludge sebagai upaya peningkatan efisiensi Oil Extraction Rate (OER) internal di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Mangkei. Evaluasi dilakukan melalui perbandingan penggunaan sludge separator dan tricanter berdasarkan data operasional aktual pabrik selama periode 2020–2025. Parameter yang dianalisis meliputi konsumsi air proses, volume limbah cair (Palm Oil Mill Effluent / POME), oil losses terhadap Tandan Buah Segar (TBS), serta kebutuhan daya listrik. Metode penelitian menggunakan analisis data historis dengan pendekatan rasio terhadap TBS yang diolah untuk menghilangkan pengaruh perbedaan kapasitas produksi antar tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada periode penggunaan sludge separator (2020–2022), konsumsi air proses berada pada kisaran 0,24–0,27% terhadap TBS, sedangkan setelah penerapan tricanter pada periode 2023–2025 nilai tersebut menurun menjadi 0,15–0,20% terhadap TBS. Volume limbah cair POME juga mengalami penurunan dari 0,08–0,10% terhadap TBS pada periode 2020–2022 menjadi 0,06–0,09% terhadap TBS pada periode 2023–2025. Selain itu, oil losses terhadap TBS mengalami penurunan signifikan dari kisaran 1,44–1,63% pada tahun 2020–2022 menjadi 1,13–1,19% pada tahun 2023–2025 setelah penggunaan tricanter. Dari sisi kebutuhan energi, sistem sludge separator memerlukan daya total sebesar 135 kW untuk kapasitas olah 45 ton/jam, sedangkan sistem tricanter hanya membutuhkan daya sebesar 60 kW untuk kapasitas yang setara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tricanter memberikan peningkatan kinerja ekstraksi minyak yang lebih efisien secara teknis, lebih hemat energi, serta lebih optimal dalam pemanfaatan air proses dan pengelolaan limbah, sehingga berpotensi meningkatkan efisiensi operasional dan keberlanjutan proses produksi di PKS Sei Mangkei. |