Pola asuh adalah cara yang digunakan orang tua dalam mendidik anak melalui pemenuhan kebutuhan, pemberian perlindungan, serta pendidikan yang berperan dalam membentuk perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. Pola asuh meliputi otoriter, otoritatif, permisif dan pengabaian. Komunikasi interpersonal merupakan bentuk komunikasi yang berlangsung antara dua individu yang memiliki hubungan dekat dan saling terikat, yang umumnya terjadi melalui interaksi langsung dalam percakapan sehari-hari. Komponen komunikasi interpersonal adalah keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif dan kesetaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi pola asuh orang tua dan komunikasi interpersonal remaja Asrama Ursulin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain penelitian korelasional. Hasil ujicoba instrumen diperoleh hasil bahwa instrumen pola asuh terdapat 25 pernyataan valid dari 40 pernyataan dengan koefisien reliabilitas instrumen sebesar 0,950 sedangkan instrumen komunikasi interpersonal semua pernyataan (55) valid dengan koefisien reliabilitas instrumen sebesar 0,955. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa korelasi pola asuh otoriter dan komunikasi interpersonal sebesar r = -0,034, pola asuh permisif dan komunikasi interpersonal sebesar r = -0,149, pola asuh otoritatif dan komunikasi interpersonal sebesar r = -0,182, dan pola asuh pengabaian dan komunikasi interpersonal sebesar r = -0,108. Seluruh nilai korelasi memiliki p-value > 0,05, yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dan komunikasi interpersonal remaja Asrama Ursulin. Hasil wawancara tambahan menunjukkan terdapat hubungan antara persepsi pola asuh orang tua dan komunikasi interpersonal remaja Asrama Ursulin. Remaja asrama disarankan untuk mengembangkan keterbukaan dalam komunikasi interpersonal dengan belajar membuka diri terhadap orang lain dan komunikasi yang jujur. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti pembinaan melalui konseling individu maupun kelompok yang diprogramkan. Pembina asrama disarankan mengadakan pembinaan melalui konseling individual dan kelompok serta kegiatan evaluasi dan refleksi guna meningkatkan komunikasi interpersonal terutama keterbukaan. |