| Amerika Serikat dan Tiongkok merupakan dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia, sehingga dinamika hubungan dagang di antara keduanya berpotensi mempengaruhi pergerakan pasar saham global, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia. Penelitian ini menganalisis dinamika korelasi antara IHSG dengan pasar saham Amerika Serikat, pasar saham Tiongkok, Emas Berjangka, serta indeks USD sejak dimulainya perang dagang pada tahun 2018 hingga penerapan tarif resiprokal oleh Presiden Donald Trump tahun 2025. Metode yang digunakan adalah Asymmetric Dynamic Conditional Correlation Generalized Autoregression Heteroskedasticity (ADCC GARCH) untuk menguji korelasi yang bervariasi sepanjang waktu antara IHSG dengan DJIA, S&P 500, NASDAQ, SHCI, HSI, Emas Berjangka, dan Indeks USD. Hasil empiris menunjukkan bahwa korelasi dinamis antara IHSG dengan pasar saham, Emas Berjangka, maupun indeks USD tidak memperlihatkan pergerakan bersama (co-movement) yang signifikan, bahkan selama periode pandemi COVID-19. Korelasi IHSG dengan pasar saham cenderung persisten dalam jangka panjang, sedangkan korelasi dengan Emas Berjangka dan indeks USD, meskipun tetap persisten, lebih rendah dibandingkan dengan pasar saham. Temuan penelitian ini mengindikasikan indeks USD merupakan instrumen yang paling tepat sebagai sarana lindung nilai (hedging) dan safe haven terhadap IHSG, sedangkan Emas Berjangka lebih sesuai sebagai instrumen diversifikasi. Pemantauan kebijakan Federal Reserve dan tren harga komoditas global menjadi krusial untuk mengantisipasi perubahan korelasi antara IHSG dengan variabel eksternal tersebut. |