| Tren gaya hidup sehat meningkatkan perhatian konsumen terhadap transparansi klaim gizi produk makanan sehat, terutama yang beredar luas di media sosial. Ketidaksesuaian klaim gizi dapat memicu krisis komunikasi dan membentuk persepsi negatif konsumen, sebagaimana terjadi pada kasus dugaan overclaim produk Hotto Purto. Tujuan penelitian ini sendiri adalah untuk mengetahui secara lebih dalam terkait persepsi konsumen Hotto terhadap strategi komunikasi krisis dalam mengatasi dugaan overclaim produk Hotto Purto. Situational Crisis Communication Theory (SCCT) oleh Timothy W. Coombs digunakan sebagai teori dalam penelitian. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis ialah penelitian kualitatif – deskriptif dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran lebih mendalam melalui wawancara semi-struktur disertai dengan observasi pada kolom komentar media sosial Tiktok Hotto (@secangkir.hotto) serta Tiktok Dennis Guido (@naktekpang). Hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan Situational Crisis Communication Theory dugaan overclaim tersebut termasuk tipe krisis accidental happened by human error. Hal tersebut dikarenakan anggapan overclaim terjadi karena ketidaktelitian pihak inernal Hotto. Dengan begitu, maka dugaan krisis dugaan overclaim tersebut tergolong ke dalam intentional / preventable cluster, dimana adanya anggapan krisis tersebut sebenarnya bisa dihindari atau dicegah. Persepi konsumen terhadap strategi komunikasi krisis berdasarkan SCCT dalam mengatasi dugaan overclaim tersebut mengarah pada strategi Diminish, dimana klarifikasi yang dikeluarkan tersebut dianggap sebagai sebuah pengalihan (excuse strategy (reason)) serta hanya untuk sekedar menenangkan para konsumen bahwa krisis yang terjadi tidak seburuk yang dipikirkan (justification). |