Impostor phenomenon adalah kondisi ketika individu tidak mampu menginternalisasi pencapaian mereka, merasa takut gagal, sulit menerima pujian, dan terus meragukan kompetensi diri. Kondisi ini dapat menurunkan self-esteem, yang pada akhirnya mempengaruhi prestasi belajar dan pengembangan diri mahasiswa. Gejala impostor phenomenon ditemukan pada mahasiswa S1 Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara impostor phenomenon dan self-esteem pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Partisipan merupakan mahasiswa aktif S1 Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta yang memiliki IPK di atas 3.554. Instrumen yang digunakan meliputi Clance Impostor Phenomenon Scale, Rosenberg’s Self-Esteem Scale, Impostor Phenomenon Family Scale, dan Impostor Phenomenon Characteristic Scale. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan korelasi Pearson untuk melihat hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif antara impostor phenomenon dan self-esteem (r = –0.200), yang mengindikasikan hubungan negatif tingkat rendah, yang berarti semakin tinggi impostor phenomenon semakin rendah self-esteem. Faktor keluarga berada pada kategori sedang, sehingga dianggap keluarga berperan dalam pembentukan impostor phenomenon pada partisipan. Karakteristik yang muncul adalah impostor cycle, fear of failure, dan fear and guilt about success. Berdasarkan temuan ini, peneliti merekomendasikan individu untuk merefleksikan diri dan mencari saran untuk melakukan konseling, seperti WELCOME, yang merupakan salah satu sarana konseling di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta. Selain itu agar fakultas mengadakan penyuluhan bagi mahasiswa, khususnya terkait karakteristik yang muncul pada partisipan |