| Kehilangan ayah pada masa remaja merupakan pengalaman emosional yang berdampak besar terhadap perkembangan psikologis anak perempuan hingga memasuki fase menuju dewasa awal. Kondisi kehilangan ayah dapat memengaruhi rasa aman, kelekatan, regulasi emosi, serta kemampuan membangun kesejahteraan psikologis. Dalam situasi ini, ibu sebagai pengasuh tunggal memiliki peran penting, dengan menerapkan pendekatan pengasuhan berbasis kekuatan yang berfokus pada pengenalan dan penggunaan kekuatan diri anak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman perempuan dewasa awal yang kehilangan ayah sejak remaja dalam mengupayakan kesejahteraan psikologis berdasarkan kerangka PERMA, serta menggali bagaimana pengasuhan berbasis kekuatan dari ibu berperan dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan berjumlah lima perempuan berusia 18–25 tahun yang kehilangan ayah akibat kematian pada usia 12–18 tahun. Ke lima partisipan dipilih melalui proses screening untuk memastikan kesesuaian kriteria penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Pusat Pengembangan Etika, dan kredibilitas temuan dijaga melalui pemeriksaan anggota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan ayah memberikan dampak emosional jangka panjang, termasuk rasa kehilangan mendalam, penurunan rasa aman, dan tantangan dalam membangun hubungan. Namun, pengasuhan berbasis kekuatan dari ibu membantu partisipan mengenali potensi diri, meningkatkan ketangguhan, serta memenuhi elemen PERMA, seperti meningkatnya emosi positif, keterlibatan dalam aktivitas, hubungan yang suportif, makna hidup yang lebih kuat, dan pencapaian personal. |