Fenomena meningkatnya tekanan sosial dan standar kecantikan di era digital membuat perempuan emerging adulthood yang menjadi acne fighter mengalami tantangan psikologis yang mempengaruhi citra diri dan kesejahteraan emosionalnya. Kondisi ini mendorong kebutuhan untuk memahami bagaimana mereka membangun self-love di tengah pengalaman berjerawat yang berdampak pada kepercayaan diri dan interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat dan dinamika self-love pada perempuan acne fighter serta menjelaskan bagaimana pengalaman subjektif mereka terbentuk melalui proses penerimaan diri dan perawatan diri. Selain itu, penelitian bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat self-love berdasarkan data kualitatif. Self-love didefinisikan sebagai sikap penghargaan, penerimaan diri, dan upaya aktif merawat diri yang tercermin melalui dimensi self-contact, self-acceptance, dan self-care. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method exploratory sequential dan menerapkan teknik purposive sampling untuk merekrut 119 perempuan acne fighter untuk pengukuran tingkat self-love dan enam partisipan untuk analisis tematik dinamika self-love mereka. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa mayoritas partisipan berada pada kategori self-love sedang hingga tinggi, dengan dimensi self-acceptance menjadi aspek paling kuat dibandingkan self-contact dan self-care. Temuan juga menunjukkan adanya variasi tingkat self-love berdasarkan pengalaman berjerawat serta intensitas dampak psikologis yang dirasakan. Hasil kualitatif mengungkap bahwa partisipan dengan self-love tinggi menunjukkan kemampuan menerima kondisi kulit, membangun narasi positif diri, dan menerapkan self-care secara konsisten. Sebaliknya, partisipan dengan self-love rendah menunjukkan pergulatan emosional, kecenderungan menarik diri secara sosial, serta kesulitan membangun hubungan positif dengan diri sendiri. Temuan menunjukkan bahwa self-love berperan penting sebagai mekanisme psikologis yang membantu perempuan acne fighter dalam menghadapi tekanan sosial dan stigma terkait penampilan, sekaligus memperkuat kesejahteraan emosional dan resiliensi mereka. |