Kegagalan hubungan romantis pada perempuan emerging adulthood sering menimbulkan respons emosional yang intens, seperti kesedihan mendalam, kemarahan, penyesalan, dan kesulitan beradaptasi dengan perubahan setelah putus cinta. Pada fase tahap perkembangan ini, individu sedang menjalani tugas perkembangan intimacy vs isolation, sehingga pengalaman relasional memiliki dampak besar pada kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan memahami tingkat forgiveness yang muncul setelah kegagalan hubungan romantis serta mengidentifikasi bagaimana perempuan emerging adulthood memaknai pemaafan dalam upaya memulihkan diri dari distress emosional. Forgiveness didefinisikan sebagai proses intrapersonal yang melibatkan penurunan motivasi avoidance dan revenge, serta peningkatan benevolence, sekaligus kecenderungan memaafkan diri, orang lain, dan situasi. Penelitian ini menggunakan explanatory sequential mixed methods dengan teknik purposive sampling. Sebanyak 129 partisipan perempuan berusia 18 -29 tahun mengisi Transgression-Related Interpersonal Motivation Inventory (TRIM-18) dan Heartland Forgiveness Scale (HFS) pada tahap kuantitatif. Lima partisipan dengan skor forgiveness tertinggi dan terendah diwawancarai menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggali dinamika emosional, proses kognitif, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemaafan. Hasil pengukuran menunjukkan distribusi tingkat forgiveness yang beragam dengan sebagian besar partisipan memiliki kecenderungan dorongan balas dendam dan penghindaran terhadap mantan pasangan yang rendah, serta motivasi kebaikan yang tinggi. Analisis kualitatif mengungkap bahwa proses pemaafan berlangsung bertahap, dimulai dari fase emosional negatif hingga rekonstruksi makna hubungan. Regulasi emosi, dukungan sosial, refleksi diri, dan pengalaman sebelumnya berperan penting dalam memfasilitasi pemaafan. Temuan ini menegaskan bahwa forgiveness menjadi mekanisme adaptif yang membantu perempuan emerging adulthood mengurangi distress, memulihkan kesejahteraan psikologis, dan membangun kesiapan untuk hubungan yang lebih sehat. |