Maskulinitas sering dikaitkan dengan norma-norma sosial yang menuntut laki-laki untuk selalu tegar, kuat, dan pantang mengekspresikan emosi. Namun, norma maskulinitas ini dapat memberikan tekanan pada laki-laki hingga dapat mengarah kepada toxic masculinity. Hal ini dapat membahayakan kesehatan mental individu dan berkaitan erat dengan subjective well-beingnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman dan gambaran subjective well-being pada laki-laki emerging adulthood yang mengalami toxic masculinity. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam terhadap ketiga laki-laki berusia 17-25 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan hasil screening alat ukur CMNI-46 yang menunjukkan skor tinggi yaitu lebih dari 119. Penetapan skor dilakukan agar dapat memastikan partisipan yang dipilih adalah individu yang memiliki kepatuhan terhadap norma maskulinitas dan membantu mengeksplorasi faktor-faktor yang berkaitan dengan kepatuhan norma maskulinitas. Proses penelitian telah mendapatkan izin rekomendasi etis dan data dianalisis dengan metode thematic analysis yang juga divalidasi menggunakan member checking. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa partisipan menginternalisasikan norma maskulinitas tradisional dengan subjective well-being yang digambarkan dengan kondisi emosi yang beragam. Partisipan mengalami afek positif seperti rasa syukur dan bahagia pada hal-hal sederhana dalam kesehariannya, dan afek negatif yaitu takut, cemas, serta khawatir yang banyak terpendam karena norma maskulinitas. Mayoritas partisipan menilai hidupnya cukup baik terutama karena dukungan sosial dan tujuan hidup yang tercapai. Penelitian ini harapannya dapat membuka ruang bagi studi lanjutan agar dapat meneliti subjective well-being dan toxic masculinity dengan karakteristik subjek yang berbeda dan mendapatkan gambaran lebih dalam terkait pemaknaan maskulinitas dan subjective well-being individu. |