| Setiap tahun, semakin banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia, khususnya pemerkosaan. Korban kekerasan seksual sering dilaporkan mengalami berbagai masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, hingga pemikiran bunuh diri. Korban kekerasan seksual juga sering dilaporkan mengalami masalah kesehatan fisik. Sayangnya, alih-alih mendapatkan empati dan dukungan, korban kekerasan seksual seringkali mendapatkan hambatan dalam penanganan kasusnya. Hambatan ini terjadi karena adanya kepercayaan akan mitos-mitos pemerkosaan (rape myth acceptance). Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara empati dan rape myth acceptance pada individu dewasa muda di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang disebar secara daring. Dua alat ukur digunakan dalam penelitian ini, yaitu: Empathy Quotient Short Form (EQ-Short) untuk mengukur empati dan Gender-neutral Illinois Rape Myth Acceptance scale (IRMAS-GN) untuk mengukur RMA. Data dari kedua alat ukur kemudian dianalisis menggunakan korelasi Spearman. Hasil penelitian dari 410 sampel menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan (?? = -0.254, n = 410, p < 0.001) antara variabel empati dan rape myth acceptance. Artinya, peningkatan pada skor empati menandakan penurunan pada skor RMA. Sebaliknya, peningkatan pada skor RMA menandakan penurunan pada skor empati. |