Tingginya tuntutan dalam menghasilkan performa musik yang baik sambil menyeimbangkan pencapaian akademik individu mendorong remaja pelajar musik untuk mengembangkan resiliensi yang optimal untuk mengelola tekanan dan mempertahankan motivasi belajar. Namun, belum tersedia alat ukur resiliensi yang dirancang khusus sesuai karakteristik tantangan dalam pembelajaran musik. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun Academic Music Resilience Scale (AMRS) serta menjawab pertanyaan apakah AMRS memiliki kualitas alat ukur yang baik dalam mengukur dan mengategorikan tingkat resiliensi remaja pelajar musik di Indonesia.
Penelitian kuantitatif ini berfokus dalam desain non-eksperimental untuk menyusun alat ukur psikologi dengan dua tahap pengumpulan data menggunakan teknik purposive sampling. Sampel bersih yang berhasil diperoleh sebanyak 197 remaja berusia 11–18 tahun yang telah mengikuti kursus musik minimal satu tahun dan pernah membawakan penampilan musik. 101 data pertama digunakan untuk uji analisis item dengan menghitung nilai Corrected Item Total Correlation (CITC) menggunakan rumus Spearman, sedangkan 96 data berikutnya digunakan untuk menguji validitas konstruk (korelasi Spearman), reliabilitas (Cronbach’s Alpha), serta standarisasi dan norma menggunakan teknik within-group norms dan percentile rank. Seluruh proses perhitungan menggunakan software JASP dan Microsoft Excel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa AMRS memiliki kualitas psikometri yang baik. Dari 52 item awal pada item pool, sebanyak 23 item final terpilih sebagai item representatif dari seluruh tujuh dimensi resiliensi. AMRS juga terbukti merupakan alat ukur yang valid dan reliabel, serta menghasilkan norma klasifikasi resiliensi yang dapat digunakan pada remaja pelajar musik. Analisis tambahan menemukan bahwa 96 partisipan penelitian memiliki tingkat resiliensi yang tinggi dalam menghadapi tantangan selama proses belajar musik. Penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan instrumen yang kontekstual bagi pelajar musik dan merekomendasikan perluasan cakupan sampel secara nasional, pelaksanaan analisis faktor, serta pengembangan skor standar untuk meningkatkan stabilitas dan generalisasi alat ukur. |