Chronotype mencerminkan preferensi individu dalam memilih waktu tidur dan melakukan aktivitas sehari-hari yang diklasifikasikan ke dalam tiga tipe, yaitu morningness, eveningness, dan neither type. Penelitian-penelitian terdahulu mengidentifikasi hubungan antara chronotype dengan emotional eating, namun mekanismenya belum konklusif. Penelitian ini ingin melihat hubungan chronotype dan emotional eating, dengan menyertakan regulasi emosi sebagai variabel mediator pada individu dewasa awal. Penelitian ini menggunakan desain korelasional. Data diperoleh dari 197 partisipan (83,16% perempuan, Mean usia = 21,43, SD = 2,95) dewasa awal di Jabodetabek. Untuk mengukur chronotype, digunakan Morningness-Eveningnes Questionnaire (MEQ), sementara regulasi emosi diukur dengan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), dan emotional eating diukur dengan subskala dalam Three Factor Eating Questionnaire (TFEQ-R21). Analisis korelasi dan mediasi digunakan untuk melihat hubungan antara ketiga variabel tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa chronotype dan emotional eating memiliki hubungan yang signifikan (Spearman’s ?? = -0,170, df = 194, p < 0,05). Selain itu, chronotype dan regulasi emosi dengan cognitive rappraisal juga memiliki hubungan yang signifikan (Spearman’s ?? = -0,253, df = 194, p < 0,001). Emotional eating dan cognitive reappraisal juga memiliki hubungan yang signifikan (Spearman’s ?? = -0,175, df = 194, p < 0,05). Lebih jauh, analisis mediasi menunjukkan bahwa regulasi emosi berbentuk cognitive reappraisal dapat memediasi secara parsial hubungan chronotype dengan emotional eating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa chronotype dan emotional eating pada dewasa awal memiliki hubungan dan dapat diprediksi dengan mediasi regulasi emosi cognitive reappraisal. Oleh karena itu, penting bagi dewasa awal untuk mempertimbangkan ritme sirkadian yang teratur dan penggunaan regulasi emosi cognitive reappraisal agar mereduksi emotional eating. |