Anda belum login :: 17 Jan 2026 15:51 WIB
Detail
BukuHubungan antara Paparan Kekerasan Emosional yang Dilakukan Orang Tua dan Self-esteem Remaja Perempuan di DKI Jakarta
Bibliografi
Author: Geraldine, Aurelya Victory ; Shanti, Theresia Indira (Advisor)
Topik: Kekerasan Emosional; Self-esteem; Remaja; Orang Tua; DKI Jakarta
Bahasa: (ID )    
Penerbit: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya     Tempat Terbit: Jakarta    Tahun Terbit: 2026    
Jenis: Theses - Undergraduate Thesis - Abstract of Undergraduate Thesis
Fulltext:
Abstract
Kekerasan emosional yang dilakukan orang tua dapat memberikan dampak pada psikologis anak, termasuk dampak negatif terhadap self-esteem. Self-esteem adalah evaluasi individu terhadap nilai dirinya sendiri yang berkembang penting pada masa remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara paparan kekerasan emosional yang dilakukan orang tua dan self-esteem remaja perempuan di DKI Jakarta.
Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 124 remaja perempuan di DKI Jakarta. Pemilihan subjek dilakukan melalui teknik snowball sampling dengan menetapkan pertanyaan filter yang merujuk pada dimensi kekerasan emosional di awal kuesioner, untuk memastikan responden memenuhi kriteria inklusi, yaitu memiliki pengalaman terpapar kekerasan emosional oleh orang tua. Kuesioner penelitian terdiri dari dua alat ukur, yaitu Emotional Abuse Questionnaire (EAQ) untuk mengukur kekerasan emosional dan Adolescent Self-esteem Questionnaire (ASQ) untuk mengukur self-esteem. Uji korelasi dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data non-parametrik Spearman’s Rho.
Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kekerasan emosional yang dilakukan orang tua dan self-esteem. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kekerasan emosional yang dialami, semakin rendah self-esteem yang dimiliki remaja. Mayoritas responden memiliki self-esteem rendah, dengan proporsi lebih tinggi pada mereka yang pernah mengalami kekerasan emosional saat usia kanak-kanak, dibandingkan yang baru mengalaminya saat remaja.
Analisis tambahan dilakukan dengan memisahkan kelompok usia, yang menemukan bahwa hubungan negatif signifikan hanya terjadi pada remaja usia 17-20 tahun, namun tidak pada usia 12-16 tahun. Melalui temuan ini, disadari bahwa rentang usia responden terbilang cukup luas, yang mencakup fase perkembangan psikologis berbeda, sehingga berpotensi memengaruhi hasil penelitian. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk membatasi rentang usia menjadi lebih spesifik guna mengeksplorasi dinamika hubungan ini secara lebih mendalam pada setiap fase perkembangan remaja.
Opini AndaKlik untuk menuliskan opini Anda tentang koleksi ini!

Lihat Sejarah Pengadaan  Konversi Metadata   Kembali
design
 
Process time: 0.09375 second(s)