Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menimbulkan dampak psikologis jangka panjang yang kompleks bagi penyintas, salah satunya adalah kecemasan yang berpotensi memengaruhi kesiapan perempuan dewasa awal dalam membangun pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kecemasan dan kesiapan menikah pada perempuan dewasa awal penyintas KDRT di Daerah Khusus Jakarta.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 123 perempuan dewasa awal usia 20 – 30 tahun penyintas KDRT yang dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen State-Trait Anxiety Inventory (STAI) untuk mengukur kecemasan dan Criteria for Marriage Readiness Questionnaire (CMRQ) untuk mengukur kesiapan menikah yang telah dimodifikasi ke dalam respon kemampuan (ability) dan kesediaan (willingness). Teknik analisis data menggunakan uji korelasi non-parametrik Spearman’s Rho.
Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan dan kesiapan menikah jika dilihat dari skor total. Namun, analisis dimensi menemukan dinamika yang kontras, di mana kecemasan berhubungan positif dengan respon kemampuan menikah, tetapi berhubungan negatif dengan respon kesediaan menikah. Temuan ini mengindikasikan adanya mekanisme kompensasi, di mana tingginya kecemasan memicu penyintas untuk meningkatkan persiapan teknis (kemampuan), namun secara bersamaan menurunkan kesediaan emosional untuk menikah. Selain itu, ditemukan bahwa usia dini saat terjadi kekerasan (kurang dari 7 tahun) berkaitan dengan tingginya kecemasan yang menetap (trait anxiety), sedangkan paparan pada usia remaja (lebih dari 12 tahun) berkaitan dengan tingginya kecemasan situasional (state anxiety). Hal ini memperlihatkan bahwa kompetensi teknis yang tinggi pada penyintas bukan indikator kesiapan mental yang utuh, melainkan bentuk pertahanan diri terhadap rasa tidak aman, sementara trauma masa lalu tetap memblokir keberanian untuk menjalin keintiman. Oleh karena itu, disarankan agar intervensi psikologis bagi penyintas lebih berfokus pada pemulihan aspek kesediaan emosional dibandingkan persiapan teknis. |