| Latar Belakang: Perkembangan motorik merupakan salah satu indikator penting dalam tumbuh kembang anak, terutama pada periode emas 1000 hari pertama kehidupan. Gangguan perkembangan motorik kasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain gangguan neurologis (palsi serebral, hidrosefalus, mikrosefali), kelainan genetik (sindrom Down), prematur, dan BBLR. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien bayi usia 6-12 bulan dengan gangguan perkembangan motorik kasar di RSUD Cibinong. Metode: Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Data yang digunakan adalah rekam medis. Hasil: Penelitian pada 30 responden menunjukkan mayoritas responden berusia 9–12 bulan (70%). Diagnosis terbanyak adalah palsi serebral (53,3%), diikuti hipotiroid kongenital (16,7%), GDD (10%), sindrom Down (10%), mikrosefali (6,7%), dan hidrosefalus (3,3%). Secara keseluruhan BBLR sedikit lebih tinggi (53,3%); 83,3% lahir cukup bulan; 40% stunted; 63,3% berstatus gizi baik; 70% orang tua berprofesi wiraswasta. Variasi gangguan perkembangan motorik paling banyak adalah belum mampu berguling dan duduk, serta paling menonjol pada pasien palsi serebral, hipotiroid kongenital, GDD, dan sindrom Down. Kesimpulan: Setiap diagnosis memiliki karakteristik yang beragam serta variasi gangguan perkembangan motorik yang khas. Namun ketidakmampuan berguling dan duduk merupakan temuan yang paling dominan pada seluruh pasien. Kata Kunci: Perkembangan Motorik Kasar, palsi serebral, hipotiroid kongenital, GDD, RSUD Cibinong. |