Generasi Z merupakan kelompok yang lahir pada 1997–2012, hidup di era teknologi, kreatif, mandiri, dan terbuka terhadap kewirausahaan. Hal ini tampak dari karakteristik, motivasi, dan preferensi kerja mereka yang lebih memilih menjadi wirausaha demi mencapai kemandirian dan kesuksesan. Hal ini terjadi karena Generasi Z ingin bebas, mampu mengekspresikan ide-ide kreatif, dan mencari makna kerja yang lebih luas, bukan sebatas mencari penghasilan. Namun, perjalanan menjadi wirausaha tidak mudah. Generasi Z sering dihadapkan pada masalah, tekanan, dan risiko, sehingga resiliensi dan kreativitas menjadi aspek penting yang dapat membantu mereka bertahan, belajar, dan menemukan solusi inovatif. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan karakteristik sampel entrepreneur Generasi Z yang berusia 18 sampai 28 tahun dan minimal sudah menjalankan usaha selama 6 bulan. Jumlah sampel yang didapat adalah 120 partisipan, dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan pendekatan snowball sampling. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner The Connor-Davidson Resilience Scale, Kirton’s Adaption-Innovation, dan keberhasilan usaha, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik regresi berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak semua variabel independen memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi berkontribusi signifikan, sedangkan kreativitas tidak signifikan. Namun, ketika diuji secara simultan, baik resiliensi maupun kreativitas menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan usaha. Selain itu, jenis kelamin dan pekerjaan orang tua partisipan tidak berpengaruh terhadap resiliensi dan kreativitas. |